Kamis, 18 September 2014

adat budaya sumba

RUMAH TRADISIONAL



Bentuk atapnya tinggi lancip, serupa menara dimana tersimpan benda-benda pusaka (Tanggu Marapu).Tiap-tiap Rumah Adat mempunyai 3 bagian: Bagian bawah, tengah dan atas rumah, mencerminkan simbol alam dalam pandangan Suku Bangsa Sumba, yakni alam bawah (tempat arwah), alam tengah (tempat manusia) dan alam atas (tempat para dewa).Dengan demikian rumah bukan hanya tempat kediaman manusia tetapi juga merupakan tempat kebaktian dan pusat persekutuan sosial dan ekonomi  ( center of social gathering and economic ).

•    Aktifitas yang dapat dilakukan : foto, melihat arsitek rumah sumba, menyaksikan tarian tradisional, proses pembuatan kain tenun dan kuburan megalitik
•    Akomodasi : terdapat banyak pilihan penginapan karena terletak di kota waingapu.

(lihat info Hotel dan Tarif di kota Waingapu di bawah )
•    Kuliner : terdapat beberapa warung makan  di luar obyek
•    Berbelanja : masyarakat biasanya menawarkan hasil tenun pada pengunjung namun terdapat juga toko souvenir di luar obyek.
•    Transportasi : sarana transportasi umum (Bemo), ojek.
TARIAN TRADISIONAL
Berbagai tarian tradisional terdapat diseluruh daerah Sumba Timur yang disajikan pada upacara ritual, pagelaran dan acara pemerintahan yang diiringi oleh nyanyian lagu-lagu adat, gong dan tambur serta alat musik dari bambu (nggu’nggi dan jung’ga au) yaitu tari Ndua kali, tari Kadingangu, tari Ngguku (Wulu Manu), tari Parinna, tari Ludu, tari Panapang Baru, tari Patang, tari Pata Pandailung, tari Waluk, tari Kanduku Wuaka dan tarian penyambutan tamu agung yaitu: Ninggu Harama dan Harama.
Selain di kampung-kampung tradisional, tarian diatas dapat juga disaksikan di sanggar-sanggar seni antara lain : sanggar tari Ori Angu (Lambanapu), sanggar tari Ninggama (Prailiu), sanggar tari Mbeni Mangu (Wangga), sanggar tari Talu Nggeda (Kawangu), Gempar (Praimbana), Prainatang (Mondu), Praiyawang (Rindi), Katala Hamu Lingu (Lewa), Riki Mata (Radamata), Manandang Pa’Ori ( Desa Praikalala), Guagat Paraingu (Kecamatan Kananggar).
KEMATIAN DAN PENGUBURAN
Kematian dilihat dari transisi antara hidup duniawi dan akhirat dan merupakan peristiwa penting dalam perjalanan seseorang menuju kebahagiaan sejati. Oleh karenanya penguburan harus dilaksanakan dengan upacara khusus agar arwah manusia layak masuk dalam Praimarapu (Surga). Setelah mayat disimpan bahkan sampai bertahun-tahun, dilakukan penyembelihan ternak kerbau dan kuda dalam jumlah besar (tergantung status sosial) sebagai sesaji pengiring penguburan. Upacara ini terdiri dari dua tahap, pertama
jenazah dibungkus dengan kain berlapis-lapis lalu diletakkan dalam peti kayu dengan diameter 1,50 cm (pada jaman dahulu tidak menggunakan peti berbahan kayu, melainkan menggunakan kulit kerbau yang telah dikeringkan). Jenazah diletakkan dalam posisi jongkok (seperti posisi janin dalam rahim ibu, yang memiliki makna “Lahir Baru”) lalu ditempatkan dalam rumah adat sambil menantikan upacara berikutnya.
Jenazah dijaga oleh Papanggang/Ata Ngandi (Hamba Bawaan) yang juga berperan sebagai mediator dengan sang arwah. Sehari sebelum berakhirnya tahap pertama diadakan upacara Pahadang yang dipimpin oleh Ratu (Pendeta Marapu). Sebelum tahap kedua, batu kubur sudah disiapkan dengan ukuran tergantung status sosial. Batu tersebut harus ditarik dari luar kampung yang diawali dan diakhiri dengan upacara khusus. Jenazah diusung dan diarak dalam suatu prosesi sambil diiringi oleh arakan kuda berhias yang ditunggangi oleh hambanya (Ata Ngandi) sampai ketempat pemakaman jenazah ditempatkan dalam kubur batu megalit. Anda dapat melihatnya di Kampung Prailiu, Pau dan Praiyawang, serta kampung-kampung tradisional lainnya.
SENI DAN KERAJINAN TANGAN
Kekhasan tenun ikat memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi ketenaran Sumba Timur di mata dunia. Disebut tenun ikat karena kegiatan mengikat amat berperan. Sebelum ditenun, benang diikat menurut pola yang telah ditentukan sebelumnya, lalu dicelup dalam pewarna, hanya kini masi digunakan benang yang dipintal secara manual dan alamiah. Kekuatan kain tenun Sumba Timur bukan saja terletak pada desain yang unik, penuh simbol-simbol dekoratif bermakna sosial kemasyarakatan hingga keagamaan ataupun tata warna alamiah yang sangat menarik tetapi justru pada proses pembuatan yang melibatkan jiwa penenunnya tersebut, yang memungkinkan waktu berbulan-bulan masa kerja dilalui dengan penuh kesabaran serta ketekunan yang luar biasa. Tenunan biasanya digunakan untuk pakaian adat, belis, membungkus jenazah dan lainnya sebagainya. Proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat di Kampung Prailiu, Kampung Lambanapu, Kampung Mauliru, Kampung Pau, Kampung Praiyawang dan Desa Watuhadang serta Desa Kaliuda yang merupakan pusat kerajinan tenun ikat.
Dikembangkan oleh Bagian PDE Setda Kabupaten Sumba Timur
Jl. Jendral Soeharto No.42 Waingapu
Sumba Timur - NTT 87112
Telp.0387-62785

Tidak ada komentar:

Posting Komentar